sukri.id
Kaltim

KKSS Kaltim Butuh Figur Pemersatu Berbasis Budaya dan Modern

Teks: Diskusi KKS Kaltim mecarai Figur Baru menuju Muswil Mei Mendatang

Samarinda- Menjelang pelaksanaan Musyawarah Wilayah (Muswil) IX Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kalimantan Timur (Kaltim), dijadwalkan pada 16-17 Mei 2026, sejumlah tokoh membahas arah pembaruan organisasi.

Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yakni akademisi pendidikan Prof. Bohari Yusuf, Anggota Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP) Kaltim Rusman Ya’qub, serta Ketua Harian BPW KKSS Kaltim Ridwan Tassa.

Diskusi yang digelar Forum Pemuda Sulawesi Selatan (FPSS) di Cafe Kopi Kuno, Jalan KH Abdur Rasyid, Kelurahan Bugis, Kota Samarinda, Sabtu malam, 11 April 2026.

Membuka sesi dialog, Bohari Yusuf menilai diskursus mengenai budaya dan modernisasi sering kali ditempatkan secara keliru.

Menurutnya, dua hal tersebut seharusnya tidak dipertentangkan dalam pengelolaan organisasi.

“Selalu keliru kalau kita hanya mengangkat sosial budaya tapi lupa modernisasi. Sebaliknya ketika kita mengusung modernisasi, kita justru melupakan akar budaya,” terangnya.

Bohari menilai calon pemimpin KKSS ke depan harus mampu memahami identitas budaya Sulawesi Selatan dan menghormati budaya lokal tempat organisasi berkembang.

“Pemimpin itu harus tahu akar budaya sendiri, tapi juga memahami budaya lokal. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” ucapnya.

Ia menilai pentingnya jaringan yang luas bagi seorang pemimpin organisasi agar KKSS dapat berkembang lebih besar dan menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak.

“Harus punya networking yang kuat. Dengan begitu organisasi bisa berkembang, baik di internal paguyuban maupun dalam hubungan dengan pemerintah,” terangnya.

Namun integritas pemimpin juga dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga soliditas organisasi.

“Ketua itu harus bisa mengayomi semua pihak, tidak memihak. Itu penting agar konflik bisa dihindari,” katanya.

Rusman Ya’qub menilai Muswil IX KKSS Kaltim merupakan momentum penting untuk menentukan arah organisasi lima tahun ke depan.

Menurutnya, pemimpin KKSS harus mampu mengaktualisasikan kepemimpinan modern tanpa meninggalkan nilai budaya yang menjadi dasar paguyuban.

“Kita ini berbasis nilai budaya. Jangan sampai dalam proses modernisasi kita justru melupakan akar kita sendiri,” ujarnya.

Rusman berharap KKSS ke depan memiliki daya tarik yang kuat dalam kehidupan sosial masyarakat.

“Harapannya bukan lagi KKSS yang mendatangi orang-orang ketika ada kegiatan. Tapi justru orang-orang yang datang ke KKSS,” pesannya.

Namun menurutnya, hal tersebut hanya dapat terwujud jika organisasi mampu memberikan rasa pengayoman kepada seluruh anggotanya.

“KKSS harus menjamin paguyubannya mampu mengayomi. Kalau elitenya hanya datang ketika ada kebutuhan, organisasi tidak akan berkembang,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya regenerasi kepemimpinan dengan memberi ruang lebih besar kepada generasi muda.

“Anak-anak muda kita harus dididik secara kepemimpinan. Selama ini kita masih terlalu membiarkan,” katanya.

Ia mengusulkan komposisi kepemimpinan organisasi di masa depan memberi ruang seimbang antara generasi senior dan generasi muda.

“Kalau perlu minimal 50:50 antara senior dan anak muda. Itu bagian dari estafet kepemimpinan,” pintanya.

Ketua Harian BPW KKSS Kaltim Ridwan Tassa dalam kesempatan yang sama menyoroti perjalanan kepemimpinan organisasi tersebut di Kalimantan Timur.

Ia menyebut sejumlah tokoh yang pernah memimpin KKSS, di antaranya Andalas, Luther Kombong, Alimuddin, hingga Andi Sofyan Hasdam.

Menurutnya, para pemimpin sebelumnya tentu memiliki kontribusi besar dalam perjalanan organisasi.

“Yang dulu itu benar dan bagus pada zamannya. Itu harus kita akui,” ujarnya.

Ridwan menilai pola kepemimpinan organisasi perlu mulai bergeser dari ketergantungan pada figur menuju sistem yang lebih kolaboratif.

“Di KKSS itu sering terjadi one man show. Ada figur yang dianggap sangat dominan sehingga organisasi berjalan mengikuti orang itu,” katanya.

Menurutnya, pendekatan tersebut sudah tidak lagi relevan jika KKSS ingin berkembang sebagai organisasi modern.

“Sekarang saatnya kita bergerak ke arah manajemen yang kolaboratif,” ujarnya.

Ridwan juga menyoroti fakta bahwa hingga kini organisasi belum memiliki sekretariat yang benar-benar menjadi pusat aktivitas.

“Kalau tidak ada sekretariat, sulit membangun organisasi yang kuat,” katanya.

Related posts

Aksi 21 April di Kantor Gubernur, Rusman Ya’qub Minta Sampaikan Secara Konstitusional

Mohammad

Cegah Tabrakan Berulang, Jembatan Sungai Mahakam akan Dibuat Titik Tambat

Dinda

Faisal: Porprov Paser Kemungkinan Ditunda 2027

Dinda