sukri.id
Nasional

Bahlil Sebut Cadangan BBM Nasional Aman

Teks: Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia (Foto - Tangkapan Layar Youtube)

Jakarta – Menteri Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional dalam kondisi aman dan telah melampaui standar minimal cadangan nasional.

Sebagaimana disampaikan Bahlil usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu 4 Maret 2026.

Ia menjelaskan, kemampuan daya tampung cadangan BBM Indonesia sejak lama hanya berkisar maksimal 25 hari, dengan standar minimal cadangan nasional berada pada rentang 20 hingga 23 hari.

Saat ini, cadangan BBM nasional tercatat berada di angka 23 hari.

“Saya sampaikan bahwa kemampuan daya tampung BBM kita sudah sejak lama hanya maksimal di 25 hari. Sehingga cadangan nasional kita itu minimal 20 sampai 23 hari. Sekarang BBM kita itu sudah 23 hari. Jadi sudah di atas standar minimal cadangan nasional,” ungkapnya.

Meski demikian, ia mengakui keterbatasan kapasitas penyimpanan (storage) menjadi tantangan utama dalam meningkatkan cadangan energi nasional.

Karena itu, Presiden Prabowo mengarahkan agar pemerintah segera membangun fasilitas penyimpanan baru.

“Bukan kita tidak punya cadangan untuk mengisi minyak. Tapi sekarang mau taruh di mana? Kita tidak punya storage. Makanya arahan Presiden segera kita membangun storage,” jelasnya.

Menurutnya, pembangunan fasilitas penyimpanan tersebut ditargetkan mampu meningkatkan cadangan energi nasional hingga mencapai tiga bulan.

Pemerintah saat ini tengah menyiapkan sejumlah alternatif lokasi pembangunan, salah satunya di wilayah Sumatra.

Bahlil juga menyinggung potensi dampak konflik global terhadap pasokan energi. Ia memastikan hingga saat ini pasokan energi nasional masih dalam kondisi aman dan belum terdampak signifikan.

“Kalau sampai dengan sekarang belum terganggu. Tapi ke depan kalau perangnya lama pasti akan berdampak. Sampai dengan 1–2 bulan ke depan insyaallah kita masih clear,” tuturnya.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah. Untuk BBM jenis bensin, Indonesia mengimpor dari kawasan Asia Tenggara, bukan dari Timur Tengah, sehingga relatif lebih aman dari dampak konflik di kawasan tersebut.

“Kalau menyangkut Liquefied Petroleum Gas (LPG) tidak ada masalah. Kalau BBM yang kita impor tinggal bensin dan itu kita belinya di Asia Tenggara, tidak ada di Middle East. Jadi relatif insyaallah clear,” terangnya.

Related posts

Rakernas III  JMSI, Menghasilkan Dua Program Unggulan 

Andi

Pengayoman Run 2025 Bangun Kebersamaan untuk Hidup Sehat

Athirah

Terjadi Pergeseran Nilai, Kaltim.Meraih Monev KIP Peringkat 2

Andi