Samarinda – Perkembangan dunia digital tidak hanya membawa kemudahan akses informasi, tetapi juga menghadirkan tantangan serius bagi kewarasan publik. Fenomena post-truth (pascakebenaran) hingga maraknya budaya clickbait kini menjadi ancaman nyata yang dapat membelokkan fakta demi membentuk persepsi.
Lantas, mengapa kita tidak boleh memercayai segala hal yang beredar secara daring? Bagaimana cara membedakan antara realitas dan manipulasi informasi?
Dalam refleksi berjudul why we can’t believe everything online melalui kanal YouTube pribadinya, Maudy Ayunda menekankan bahwa saat ini masyarakat berada di era ketika kebenaran atau fakta kerap kalah oleh emosi dan persepsi personal dalam membentuk opini publik.
“Masyarakat post-truth adalah kondisi di mana kebenaran bukan lagi nilai utama. Sebaliknya, apa yang terasa benar atau secara emosional lebih dapat diterima, dianggap penting daripada fakta atau bukti nyata,” jelasnya dalam akun YouTube pribadinya.
Menurutnya, algoritma media sosial memegang peran kunci dalam memperkeruh situasi. Platform digital cenderung menyajikan konten yang sesuai dengan bias pengguna atau berdasarkan tingkat keterlibatan (engagement), bukan semata-mata kebenaran.
Akibatnya, masyarakat kerap terjebak dalam ruang gema (echo chamber) yang mengaburkan batas antara realitas dan hoaks.
Maudy juga menceritakan pengalaman pribadinya saat menjadi korban distorsi informasi.
Ia mengutip kejadian ketika wawancara singkat di TikTok mengenai posisinya jika menjadi Menteri Pendidikan. Jawabannya yang bersifat santai dan kontekstual justru dipelintir menjadi judul clickbait yang provokatif.
“Judulnya dibuat seolah-olah saya ingin menghapus soal pilihan ganda secara total, padahal konteks aslinya jauh lebih bernuansa dan tidak sesederhana itu. Budaya clickbait ini mengutamakan kecepatan di atas akurasi,” tegasnya.
Maudy juga menyoroti bahaya penggunaan kutipan palsu atau tangkapan layar buatan yang sering diatribusikan kepada tokoh tertentu untuk menggiring opini publik.
Menurutnya, hal tersebut sangat berbahaya karena dapat menciptakan keraguan massal terhadap realitas jika tidak segera diklarifikasi.
“Budaya clickbait ini sangat mengkhawatirkan karena lebih mengejar kecepatan dan jumlah klik daripada akurasi. Dampaknya adalah hilangnya konteks, kedalaman, dan kebenaran dalam diskusi publik,” lanjutnya.
Panduan menghadapi arus informasi, agar tidak terjebak dalam pusaran hoaks, Maudy membagikan sejumlah langkah praktis yang dapat dilakukan warganet:
1. Kesadaran akan Bias Algoritma
Warganet perlu menyadari bahwa konten yang muncul di lini masa media sosial telah dikurasi oleh sistem. Karena itu, penting untuk mencari sudut pandang di luar ruang gema atau keyakinan pribadi.
2. Melakukan Cek Silang (Cross-check)
Jangan langsung menyerap informasi dari sumber kedua atau ketiga. Maudy menyarankan agar selalu merujuk pada sumber primer atau melakukan verifikasi melalui sumber-sumber kredibel.
3. Evaluasi Kritis Sebelum Berbagi
Tanggung jawab besar ada pada jari pengguna. Sebelum melakukan repost atau membagikan informasi sensasional, penting untuk memastikan akurasi dan kredibilitasnya.
“Tanggung jawab ada pada kita sebagai konsumen media sosial. Sebelum melakukan repost atau membagikan konten yang sensasional, kita harus mengevaluasi kredibilitasnya secara kritis agar tidak menjadi bagian dari penyebaran misinformasi yang merugikan,” terangnya.
Dalam konteks literasi digital, Maudy mengingatkan bahwa apa yang sering dikonsumsi akan membentuk keyakinan pribadi. Jika filter internal lemah, persepsi terhadap kenyataan akan mudah dimanipulasi.
Ia juga menekankan agar para pemegang pengaruh (influencer) memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar untuk tidak menjadi jembatan penyebaran informasi menyesatkan.
“Apa yang kita ekspos ke diri kita akan membentuk siapa kita. Jika kita tidak kritis menilai konten, kita berisiko menyerap informasi bias yang merusak pemahaman kita tentang realitas,” pungkasnya.
Pada akhirnya, Maudy menegaskan bahwa di tengah arus informasi yang serba cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak dan berpikir kritis merupakan perlindungan terbaik agar tidak tersesat dalam belantara informasi palsu.
