sukri.id
Samarinda

Masjid Raya Darussalam di Pandang dari Tepian Mahakam

Teks: Masjid Raya Darussalam dimabil dari Arah Sungai Mahakam (foto-Ira)

Samarinda– Dari tepian Sungai Mahakam hingga hiruk-pikuk pusat ekonomi kota, Masjid Raya Darussalam, menjadi saksi perjalanan panjang Samarinda selama hampir satu abad.

Dahulu, masjid ini dikenal dengan nama Masjid Jami’. Dibangun sekitar tahun 1920-1925 oleh para saudagar Bugis dan Banjar, bangunan awalnya sangat sederhana.

Masjid ini, punya luasnya hanya 25 x 25 meter persegi, berbahan kayu ulin dengan atap sirap.

Tidak ada halaman luas seperti sekarang. Serambi kanan langsung menghadap jalan, sementara sisi kiri berbatasan dengan Sungai Mahakam.

Seiring perkembangan kota dan bertambahnya jumlah penduduk, kapasitas masjid tak lagi memadai. Pada periode 1952-1955, tokoh-tokoh seperti Datuk Madjo Oerang, APT Pranoto, dan KH Abdullah Marisie memprakarsai renovasi pertama.

Masjid yang berada di jantung Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), tepatnya di Jalan K.H. Abdullah Marisie No. 1, Pasar Pagi, Samarinda.

Panitia pembangunan dibentuk di bawah arahan APT Pranoto. Desain arsitektur dipercayakan kepada Van Der Vyl dari Dinas PU Kalimantan Timur.

Peletakan batu pertama dilakukan pada 9 November 1953 oleh A.M. Parikesit, Kepala Daerah Istimewa Kutai, dengan biaya pembangunan saat itu mencapai Rp2,5 juta, angka yang sangat besar pada masanya.

Letak masjid yang berada di pusat aktivitas ekonomi, yakni dekat pelabuhan, Citra Niaga, dan Pasar Pagi, sempat menuai kritik.

Sebagian kalangan menilai lokasi tersebut berpotensi mengganggu kekhusyukan ibadah. Namun, waktu membuktikan sebaliknya.

Posisi strategis itu justru menjadikan Masjid Raya Darussalam sebagai oase spiritual di tengah denyut perdagangan dan mobilitas kota.

Memasuki era 1990-an, ketika jumlah penduduk Samarinda mencapai lebih dari 400 ribu jiwa, kebutuhan akan sarana ibadah yang representatif semakin mendesak.

Pada masa kepemimpinan Gubernur H.M. Ardans, perhatian terhadap masjid ini semakin besar.Bangunan diperluas dan direnovasi dengan luas keseluruhan mencapai ribuan meter persegi. Kapasitasnya meningkat hingga mampu menampung sekitar 14 ribu jemaah.

Arsitektur masjid mengusung gaya Turki Usmani, terlihat dari menara bundar yang ramping dan menjulang di empat penjuru bangunan utama.

Kubah utama diapit delapan kubah kecil, dengan detail ornamen khas yang memperkuat kesan Timur Tengah.

Tangga di sisi depan dan kiri menjadi elemen tersendiri, sementara lengkungan pintu dan jendela mempertegas karakter arsitekturalnya.

Ruang dalam masjid terasa lapang tanpa tiang penyangga besar. Lantai mezanin, lampu gantung yang elegan, serta kaligrafi yang menghiasi interior dan eksterior menjadikan suasana ibadah terasa khusyuk sekaligus megah.

Fasilitas penunjang seperti taman, kolam air mancur, klinik, dan perpustakaan turut melengkapi fungsi sosial masjid.

Perjalanan masjid ini tak berhenti di sana. Pada 2024, revitalisasi besar kembali dilakukan dengan nilai kontrak Rp19,9 miliar.

Tahun berikutnya, dukungan anggaran Rp4,79 miliar dikucurkan untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat mencapai progres 35 persen sebelum akhirnya dirampungkan pada tahap tersebut.

Fokus revitalisasi mencakup perbaikan interior mihrab, pembenahan kubah, renovasi plafon lantai tiga, hingga penambahan atap membran di area wudu.

Taman dipercantik dengan lampu hias, dan kanstin yang rusak diganti.

Di atas lahan seluas 15.000 meter persegi, masjid kini dilengkapi sistem tata suara modern dan partisi area wudu yang lebih fungsional.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menyebut revitalisasi ini sebagai bagian dari komitmen menghadirkan fasilitas ibadah yang nyaman dan representatif.

“Renovasi tahap ini telah rampung sempurna, membuka pintu bagi generasi mendatang untuk beribadah dengan khusyuk. Ini bagian dari komitmen kita mendukung visi Samarinda yang harmonis, berkelanjutan, dan inklusif,” ujarnya.

Dari bangunan kayu ulin sederhana di tepian Mahakam hingga masjid megah bergaya Timur Tengah, Masjid Raya Darussalam bukan sekadar tempat ibadah.

Ia adalah simbol perjalanan sejarah, identitas Islam di Samarinda, sekaligus ruang pertemuan spiritual dan sosial masyarakat.

Related posts

Maudy Ayunda Ajak Warganet Kritis Hadapi Budaya Post-Truth dan Clickbait

Andi

Pesona Cafe di Pelita 3 Gagal Disegel

Andi

Saefuddin Zuhri: Ketahanan Keluarga Sebagai Fondasi Pembangunan Daerah

Andi